Senin, 2 Mei 2016. “Gelas Kosong” kali ini diisi oleh kak Syisnawati Syarif. Salah seorang dosen di UIN Alauddin Makassar. Nah, kali ini kak Syisna akan berbagi tentang bagaimana seharusnya ketika kita jatuh, kemudian berusaha untuk bangkit lagi. Tentang bagaimana menerima keadaan, bahwa rencana Allah selalu lebih indah daripada rencana kita sendiri.
Silakan disimak ya… ^_^
===============================================================
Jatuh. Jika mendengar kata “jatuh” saya yakin dengan haqqul semua teman pasti pernah mengalaminya entah jatuh secara fisik maupun jiwa, lalu setelah “jatuh” apa respon teman-teman? Hmm… mungkin ada yang bilang “aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi… huoo” (eh kok malah jadi lirik lagu yah hehe, sstt… back to the topic yuuk).
Mungkin setelah jatuh ada yang bilang “ahh, jatuh itu biasa, saya pasti bisa bangkit”. Dua perspektif yang berbeda tentang “jatuh”. Hmm, ada yang mulai penasaran kali yah, kenapa saya sedari tadi ngomong soal “jatuh” hehe.
Mungkin ini sedikit gambaran kisah kecil saya yang cukup menggugah diri saya untuk bangkit dari kata jatuh dan tak berdaya.
Pada zaman dahulu kala, tepatnya ketika seorang anak bernama Syisnawati berusia 7 tahun tersebut terserang bakteri jahat bernama Salmonella thyposa dan berujung pada sakit dan bedrest selama tiga bulan, kehilangan tenaga hingga berjalanpun tak mampu, klimaksnya tak masuk sekolah dan harus tinggal kelas. Ketika rapor dibuka, waduh betapa menohoknya melihat sudut kanan bawah rapor merah era 90-an, “tidak naik kelas”. Aduh, sedih rasanya. Waktu itu saya lebih banyak menyendiri, boleh dibilang hampir depresi.
Kondisi tersebut membuat ibu saya mengambil langkah yang tak kuduga. Mungkin itulah esensi kasih ibu yang luar biasa. Tak disangka ternyata beliau menemui kepala sekolah SD tempat saya belajar. Beliau memohon dengan sangat agar saya tetap bisa naik kelas, yang biasanya kita sebut dengan “naik bersyarat”. Yap, syaratnya saya harus menunjukkan bahwa saya pantas untuk naik kelas. Ketika tahu hal itu saya seperti diinjeksi adrenalin. Sayapun bertekad untuk bersungguh-sungguh. Alhamdulillah dengan semangat going extra miles, semangat itu berlanjut hingga saya duduk di SMA.
Ketika menjelang SPMB, saya jatuh lagi karena saya merasa tidak bisa mewujudkan harapan orang tua saya untuk menjadi dokter. Saya hanya lulus di pilihan kedua “keperawatan”. Ahh, dengan setengah hati kuikuti perkuliahan hingga IPK pun drop. Seiring waktu, sayapun mencoba mencintai pilihan itu, tapi saya terlalu telat menyadarinya. Saya berupaya memantik semangat tersebut di semester akhir.
Pada saat profesi ners, setelah lulus kuliahpun, saya kadang merasa kurang pede dengan pilihan tersebut. Tapi satu hal yang pasti “Allah tidak pernah menganiaya, Allah tahu yang kita butuhkan”. Bermodal ijazah dan rasa kurang pede, Allah ternyata punya takdir lain untukku. Alhamdulillah takdir yang tidak disangka dan datang begitu cepat di usia saya waktu itu 23 tahun.
Mungkin itu sekelumit cerita saya teman-teman. Maafkan jika ada kata yang salah. Tak ada niat riya hanya sekedar berbagi motivasi. Barakallahufiikum.
Oh iya, jika saja korteks prefrontal dan hippocampus kita bisa bekerja dengan baik sejak usia dua tahun, kita pasti akan kebal dengan “jatuh”. Kenapa? Karena diusia tersebut kita lagi lucu-lucunya belajar jalan. Ketika jatuh (tabbongkang, tabbulinta, tabuttu, tappanyunyu dan ta ta lainnya) namun kita tidak pernah menyerah dan selalu bangkit. Hmm, mungkin saja Tuhan punya rahasia hingga Dia mengatur korteks prefrontal dan hippocampus kita hingga tak bisa mengingt hal tersebut. Mungkin agar kita tidak takut dengan rasa sakit, agar kita bisa menyelami esensi tentang memaknai jatuh dari sudut pandang positif. Kita sebagai makhluk sosial butuh orang lain agar bisa saling membantu untuk bangkit. Its called the other side of down.
================================================================
Demikianlah sharing dari kak Syisna untuk Gelas Kosong edisi kali ini, semoga kita bisa mengambil pelajaran di dalamnya. ^_^
Sampai ketemu di edisi GeKo selanjutnya ya…
Keep sharing, keep inspiring. ^_^