#RK

Receh untuk Kehidupan dan Persaudaraan tanpa Batas

Pernah gak sih teman-teman belanja di toko kelontong atau makan di warung lalu ditolak saat membayar menggunakan uang koin atau recehan kecil? Saya pernah.

Mungkin, bagi sebagian pengasong yang menolak dibayar menggunakan koin, menganggap bahwa koin tersebut sudah tidak berlaku lagi dipasaran. Mereka tidak tahu bahwa ada sekelompok manusia yang menyambung hidup dengan sekumpulan koin ini.

Salah satu program besar dari komunitas Sahabat Indonesia Berbagi (SIGi) adalah Receh Kahuripan (RK). Receh yang berarti uang dan kahuripan berasal dari bahasa sunda bermakna kehidupan. Program ini mengajak setiap pegiat untuk menyisihkan uang dalam celengan masing-masing setiap harinya lalu dikumpulkan pada satu hari yang ditentukan sambil bersilaturrahim sesama pegiat.

Lalu, receh ini untuk apa? Nantinya, receh-receh yang terkumpul akan digunakan untuk membantu adik-adik/sahabat-sahabat kita yang membutuhkan entah itu untuk biaya pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Bayangkan jika seorang dari kita menyisihkan Rp. 2.000,00 per harinya, dalam 30 hari tabungan receh kita akan terkumpul sebesar Rp. 60.000,00. Jika jumlah pegiat sebanyak 100 orang, maka akan terkumpul sebesar Rp. 6.000.000,00. Banyak kan?

 

***

Musibah banjir yang menimpa saudara kita di Bima, Nusa Tenggara Barat pada Rabu 21 Desember 2016 kemarin, menyisakan banyak kerugian dan luka bagi saudara kita korban di sana. Lima kecamatan di Kota Bima terendam banjir setinggi 1-2 meter meliputi Kecamatan Rasanae, Rasanae Timur, Rasanae Barat dan Punda. Tinggi banjir di wilayah Lewirato, Sadia, Jati Wangi, Melayu, Pena Na’e mencapai dua meter.

Meche adalah salah seorang pegiat SIGi Makassar saat masih aktif berkuliah jurusan pendidikan salah satu universitas negeri di kota Makassar. Menjadi volunteer pengajar pada program SIGi Carakde (kelas belajar non-formal SIGi Makassar) lalu berhenti setelah kuliah selesai dan mengharuskannya untuk pulang ke kampung. Meche yang berkediaman di kota Bima, menjadi korban dari musibah yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Padolo dan air bah kiriman dari Wawo ini. Menurut pengakuan lewat obrolan grup messenger yang kami terima pada Ahad (25/12) pagi, “Alhamdulillah, hanya nyawa yang bisa tertolong.. mohon doanya teman-teman”.

Pesan sangat singkat yang saya baca pagi itu sangat mengiris batin. Bagaimana mungkin saya bisa tidur tenang sedangkan di sana ada saudari saya yang sedang berjuang meminda hidup, mulai kembali dari nol serta makan dan menggunakan pakaian hasil bantuan dari kabupaten sekitar?

Satu yang saya tahu, ini adalah maksud sesungguhnya dari adanya program receh kahuripan.

***

Setelah mendapat kabar, kami berinisiatif mengadakan kumpul receh dadakan pada selasa (27/12). Tujuannya adalah membantu saudari kami, yang menjadi korban tersebut. Alhamdulillah, atas izin Allah sebesar Rp. 1.900.000,00 terkumpul dalam semalam. Receh yang terkumpul akan diantarkan langsung oleh salah seorang teman yang berangkat ke Bima hari ini (rabu, 28/12).

Selain kumpul #RKuntukMeche, teman-teman SIGi Makassar juga membuka donasi untuk korban banjir secara umum, dan terkumpul sebesar Rp. 1.034.605,00 serta beberapa kantong pakaian bekas layak pakai.

Respon cepat teman-teman pegiat setelah mendapat kabar, menunjukkan betapa besar rasa persaudaraan kami yang terhimpun dalam komunitas ini, ibarat tubuh manusia. Ketika satu bagian terluka, maka bagian terjauh pun akan ikut merasakannya juga.

Semoga Allah menyatukan kita dalam kebaikan, di dunia juga di akhirat, bersama orang-orang yang mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Mahabesar Allah atas apa-apa yang Dia tetapkan untuk langit dan bumi. Semoga kita terlindung dari apa-apa yang buruk, dari harta yang haram, dari teman yang berkhianat dan dari lelaki yang senang menderma harapan palsu. Aamiin

***

Dalam hujan bersama secangkir teh hangat. salam recehan.

 

*Cerita dari Kak Indira Nur Triyani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *