Senin, 25 April 2016. Kembali “Gelas Kosong” di lanjutkan (maaf, baru sempat posting hasil sharing-nya). Nah, yang jadi pemateri kali ini adalah Kak Ar-Rahman Arif, yang merupakan salah seorang dosen di Universitas Hasanuddin Makassar. Setelah sebelumnya kak Fatmawati Samad sharing tentang prasangka, kali ini kak Ar-Rahman Arif sharing tentang perjuangan, harapan, dan doa.
Silakan disimak yaa… 🙂
===============================================================
Sebelumnya saya mohon maaf sama kakak-kakak semua. Dengan saya jadi pemateri pada geko kali ini tidak bermaksud untuk mengajari atau apapun itu. Hanya lebih sekadar sharing dan berbagi beberapa hal yang mungkin bisa jadi pelajaran dan pandangan bagi kakak-kakak sekalian. Hehehe…
Mungkin saya akan menceritakan beberapa pengalaman hidup saya, yang menyiratkan sebuah perjuangan, harapan, dan doa… hahaha (ala2 Rhoma irama).
Dimulai darimana yaa…
Jadi dulu ketika masih S3 (SD, SMP, SMA) boleh dibilang untuk prestasi akademik yah lumayanlah.. hampir gak pernah ada kekecewaan yang menyangkut masalah akademik di sekolah. Sampai pada suatu ketika mau masuk perguruan tinggi optimisme untuk bisa lolos di PTN bergengsi selalu tinggi. Pada saat pendaftaran masuk saya pun coba daftar masuk PTN sama seperti teman yang lain. Sampai pada saat tes, disitulah saya merasa kemalangan nasib mulai datang. Tiba-tiba saya sakit dan tak bisa ikut SBMPTN. Praktis hal tersebut menjadi pukulan telak jikalau saya berkaca dari academic record selama S3. Dan orang tua dengan berat hati memberikan masukan untuk tidak melanjutkan pendidikan dan fokus untuk recovery agar bisa sembuh total. Jadilah pengangguran dengan beban pikiran yang begitu berat, sampai stress dengan keadaan baru tersebut. Tapi perlahan saya mulai paham dan berusaha untuk move on.
Selama setahun praktis saya tak pernah menyentuh yang namanya pelajaran. Karena di rumah semuanya kerja, maka untuk menghilangkan stress saya minta dikirim ke kampung, hitung-hitung untuk memperbaiki kesehatan fisik dan mental. Hahahaha (alay). Di kampung saya belajar banyak hal, ibaratnya saya didiksar sama kakek menjadi pengembala sapi, petani dan berkebun. Tapi semua itu mengajarkan saya bagaimana berusaha untuk tetap bertahan walaupun berada dalam keterbatasan hidup. Tanpa kemewahan, perhatian lebih dari orang tua dan fasilitas.
Meskipun pada awalnya ada sih rasa malu tapi perlahan terbesit keyakinan bahwa apa yang saya kerjakan bukanlah suatu hal yang hina jadi enjoy sajalah. Dan setelah setahun berteman dengan sapi-sapi, saya mencoba peruntungan sekali lagi walaupun ada keraguan akan kejelasan masa depan saya. Hahaha.
Pada akhirnya setelah pengumuman ternyata saya diterima masuk di jurusan kimia. Jurusan yang bukan menjadi prioritas saya sebelumnya. Dalam prosesnya saya hampir pindah jurusan karena berpikir kimia bukan passion saya. Tapi karena untuk pindah harus bayar, saya berubah pikiran karena takut menyusahkan orang tua di kampung. Hehehe… Jadi saya mencoba sekali lagi survive. Saya mencoba mencari cara agar bisa betah. Namun selalu saja berujung ada kegalauan.
Namun suatu ketika dari seorang dosen saya mendapatkan pencerahan bahwa kunci yng sebenarnya adalah sebuah rasa yang berdiam dalam dirimu, rasa itu adalah sebuah representasi dari sifat Tuhan yang terbiasa dalam diri kita. Kunci itu ternyata sebuah “CINTA”. Hahahaha…
Dari situ saya mulai mencoba membangun Chemistry dengan ilmu yang menjadi takdir saya dan perlahan kenyamanan dalam memahami kimia mulai mengalir sehingga setelah lulus S1 saya mencoba melanjutkan studi karena saya menganggap apa yang saya miliki belum ada apa-apanya.
Dan dari kecintaan terhadap ilmu saya mencoba membuka diri untuk belajar segala hal seluas-luasnya, sampai-sampai pernah seseorang berujar kepada saya “bukan bagian ilmu ta itu”. Tapi bagi saya selama kita masih bisa berfikir maka gunakanlah potensi yang ada dalam diri kita untuk mengetahui segala hal. Apapun itu. Dan dari hal seperti itu banyak hal positif yang bisa saya lakukan semisal membantu orang lain dalam menganalisis atau memahami sesuatu.
Dan feedback-nya kembali juga kepada kita karena apa yang kita berikan ke mereka menjadikan mereka tergantung kepada kita (poltik ketergantungan). Praktis akan ada nilai tambah terhadap diri kita di mata mereka. Dan ketika mengenang masa yang lalu juga sebenarnya saya tidak menyangka juga bisa sampai pada tahap ini.
Singkat kata dari kata berbagi, bersabar, berusaha, dan berdoa saya belajar banyak hal dan dari kata itu pula saya menerima banyak hal yang saya tidak sangka-sangka. Dan yang paling utama sebelum melakukan sesuatu niatkan saja dengan ikhlas jangan mengharapkan hasil yang lebih. Karena balasan pasti akan selalu ada dan Tuhan yang tahu kapan kita membutuhkan balasan itu. Dan yang paling utama setiap sebelum akan melakukan sesuatu adalah minta doa restu kepada orang tua karena doa orang tua itu adalah jimat yang paling mujarab.
===============================================================
Demikianlah sharing dari kak Ar-Rahman Arif. Semoga bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk kita semua. Tentang sebuah perjuangan, harapan dan doa.
Oke, sampai ketemu di GeKo edisi selanjutnya ya…
Keep Sharing, Keep Inspiring.